Rini Yuliati

Lulusan AKL Depkes Purwokerto yang melakoni profesi momong bocah di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Kebumen Jawa Tengah ...

Selengkapnya
Diagnosa Itu Salah?

Diagnosa Itu Salah?

Hari Rabu kemarin tepat satu minggu putriku berada di rumah sakit dan masih dengan diagnosa yang sama yaitu usus buntu. Dan hari itu atas seijin dokter, putriku diijinkan untuk pulang ke rumah dengan catatan harus kontrol apabila obat sudah habis. Dokter menyarankan agar putriku bed rest untuk memulihkan kondisinya.

Sesampainya di rumah hari sudah sore dan putriku terus berbaring di tempat tidur untuk istirahat. Di wajahnya terlihat masih menyimpan rasa sakit di bagian perut sebelah kanan. Aku berpikir mengapa sakit perut itu tidak hilang-hilang. Aku sempat bermusyawarah dengan suami untuk membawa putriku ke Yogyakarta dengan harapan ada second opinion tentang penyakit putriku. Satu hari telah berlalu, keadaan masih tetap sama tidak ada perubahan sedikitpun. Sekitar pukul setengah 9 malam, suami mendapat WA dari teman yang kemarin menyarankan untuk pijat syaraf. Dia menawarkan kembali, karena kebetulan tukang pijat itu sedang mengobati pasien yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Membaca tawaran itu, suami langsung menyetujuinya. Dan tepat pukul setengah sepuluh malam, teman suami datang bersama tukang pijat itu. Seorang laki-laki muda dengan memakai celana jeans, di dahinya terlihat dua titik hitam dengan sedikit jenggot di dagunya. Dia terlihat ramah kepada kami. Tanpa menunggu lama, eksekusipun dimulai.

Dia meminta kami menyiapkan air panas satu gayung yang baru direbus dan dimasukkan ke dalam baskom. Putriku terlihat pasrah, karena dia ingin sekali sembuh. Setelah semuanya siap, si lelaki memulai aksinya dengan menanyakan nama putriku dan nama ayahnya. Mulutnya terlihat mulai berdoa dengan kesungguhan.

Dia berkata kepada putriku, "Mba Khoirunisa sambil berdoa dan diniatkan untuk mencari kesembuhan kepada Allah, ya." Putriku hanya mengangguk tanda setuju. Tangan si tukang pijit dimasukannya ke dalam air panas yang baru mendidih, dan ditempekannya ke bagian perut putriku yang sebelah kanan.

"Wah Ibu, perutnya terlihat agak bengkak ini, " kata si tukang pijat. Putriku terlihat meringis menahan sakit.

"Iya Pak, kata dokter usus buntu, "jawabku yang ikut menemani prosesi pemijatan putriku.

"Ini bukan usus buntu Bu, kalau usus buntu yang sakit sebelah sini." Dia menerangkan sambil menunjukkan bagian perut putriku.

"Oh, begitu ya Pak, "jawabku sambil menganggukkan kepala.

"Di daerah sini mrengkel Bu seperti semangka."Tangannya bergerak sambil menunjukkan bagian perut sebelah kanan.

Dia terlihat sangat percaya diri sambil sesekali menanyakan perasaan putriku. Waktu berlalu hampir setengah jam.

"Gimana Mba Khoirun, sudah agak mendingan? "tanya si tukang pijat kepada putriku. Dan dijawab anggukan kepala putriku.

"Sebentar ya, saya minum dulu, "katanya sambil berdiri dan di wajahnya terlihat gurat kelelahan. Setelah minum, proses pemijatan pun dilanjutkan kembali. Hampir satu jam aku menemani putriku di kamar, sambil sesekali mengikuti instruksi si tukang pijat.

"Gimana, sudah enak rasanya, " dia kembali menanyakan perasaan putriku.

"Iya, " kata putriku dengan menganggukkan kepalanya.

"Alhamdulillah, "kata si tukang pijat dengan wajah sumringah. Dia mengambil botol berisi air putih dan memintaku untuk mengambilkan air minum untuk putriku. Setelah aku mengambil air minum, dia menuangkan sedikit air dari botol yang dibawanya.

"Ayo Mba Khoirun, baca syahadat 3 x, istighfar 3 x, sholawat 3 x dan laa haula wa laa quwwsta illa billah 3 x, " pinta si tukang pijat. Kemudian air dalam gelas diminum oleh putriku dan dia mengakhiri proses pemijatan itu. Dari ceritanya ia adalah alumni pondok pesantren di Jawa Timur.

Hampir satu jam putriku dipijat, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Setelah bercerita dan menikmati suguhan dari kami selaku tuan rumah, akhirnya dia berpamitan dan berjanji untuk melakukan tindakan pemijatan kembali setelah satu minggu. Suami menyodorkan sebuah amplop sebagai tanda terima kasih kepadanya.

Setelah prosesi pemijatan, putriku tidak juga bisa untuk memejamkan mata padahal waktu sudah cukup malam. Dan ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 12 malam, dia mengeluh ingin muntah. Dengan panik aku menyodorkan sebuah baskom untuk menampung isi perutnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Jangan-jangan salah pijat nih." Aku merasa begitu cemas, sampai-sampai badanku ikut lemas dan matapun sulit untuk terpejam.

Aku kaget ketika sudah dapat memejamkan mata sebentar dan mendengar suara putriku meminta tisu untuk mengelap wajah dan tubuhnya yang berkeringat. Dengan mata mengantuk aku menyodorkan tisu ke tangannya. Dan sampai akhirnya terdengar adzan Subuh, aku terbangun dengan setengah kaget. Putriku terlihat sudah dapat tertidur. Di wajahnya terlihat gurat kelelahan yang teramat sangat.

Bangun dari tidur aku merasakan kelelahan yang luar biasa karena kualitas tidur yang kurang. Tidurnya hanya layap-layap (istilah orang jawa untuk tidur yang tidak nyenyak). Kulihat putriku sudah terbangun dengan wajah berkeringat.

"Bu, tahu tidak? " kata putriku mengundang rasa penasaranku.

"Tadi malam sewaktu aku minta tisu, "katanya dengan wajah serius.

"Iya, emang kenapa Mba,"jawabku penasaran.

"Tadi malam keringat yang mengalir di tubuhku seperti orang mandi, Bu. Namun setelah itu, perut dan badanku terasa enak dan sudah tidak sakit lagi, "katanya panjang lebar.

"Oh ya, "jawabku antusias. Alhamdulillah, mudah-mudahan setelah ini Allah mengangkat penyakitmu dengan tuntas."

Setelah pembicaraan itu, aku kemudian berpikir apa mungkin diagnosa tentang usus buntu itu salah. Bukannya aku tidak percaya dengan institusi rumah sakit, namun perasaan seorang ibu mengatakan bahwa putriku bukan sakit usus buntu. Wallahu a'lam. Hanya Allah yang mengetahui dan sebagai manusia hanya wajib berikhtiar dan soal kesembuhan hanya Allah yang berhak memberikannya. Aku hanya berharap semoga putriku tetap diberi kesehatan setelah kejadian ini.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulilah atas kesembuhan putrinya, dokter juga manusia bunda tidak luput dari salah

08 Oct
Balas

Iya Pak Mulya... Saya bersyukur karena sudah ditunjukkan jalan terbaik oleh-Nya... Terima kasih atas perhatian dan doanya.. Barakallah..

08 Oct

Alhamdullilah Mba Tia sudah sembuh.

08 Oct
Balas

Iya Bulik....sudah mulai sembuh tadi sudah mulai sekolah.....

08 Oct

Betul, bunda...tugas kita berikhtiar dan berdoa. Alhamdulillah mba Tia sudah sembuh. Semoga bisa kembali sekolah seperti biasa. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...mba Tia dan bunda.

08 Oct
Balas

Alhamdulillah Bunda....semuanya juga berkat doa dari teman-teman yang ada di sini....Jazakumullah atas perhatiannya selama ini...Barakallah Bunda....

08 Oct

Alhamdulillah, ikut senang, putrinya bu Rini sdh sembuh. Barakallah

08 Oct
Balas

Jazakumullah khoiron katsiro Bunda Ropi atas perhatian dan doanya.....Barakallah...

08 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali