Rini Yuliati

Lulusan AKL Depkes Purwokerto yang melakoni profesi momong bocah di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Kebumen Jawa Tengah ...

Selengkapnya
Gara-gara Pepaya (Tragedi dalam Sebuah Apersepsi)
Sumber gambar : hellosehat.com

Gara-gara Pepaya (Tragedi dalam Sebuah Apersepsi)

Anak usia dini dengan segala tingkah polahnya selalu membuatku merindu. Segala kepolosan dan kelucuannya membuat hati ini tidak bisa lepas dari mereka. Dan itulah yang membuatku sanggup bertahan menjadi guru kecil.

Seperti hari Rabu kemarin (31/10/2018) merupakan hari yang membuatku ingin tertawa sekaligus malu. Mengawali kegiatan dengan menyambut anak-anak imut sudah menjadi rutinitas yang harus kulakukan. Setelah kegiatan berbaris dan senam bersama, anak-anak masuk ke dalam ruangan. Kegiatan pembukaan diawali dengan salam dan pembiasaan doa harian serta hafalan hadist pendek. Setelah menanyakan kabar anak-anak hari itu, aku mulai masuk kegiatan inti. Karena hari itu akan membahas tema tanaman dengan sub tema tanaman buah yaitu pepaya maka aku membawa buah pepaya yang masih mentah dan sudah matang. Sesuai dengan kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifiknya bahwa proses pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif membangun kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan melalui tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan.

Untuk mengawali apersepsi aku memulai dengan sebuah percakapan.

"Wah, anak-anak coba perhatikan bunda membawa apa ini, "kataku sambil membawa buah pepaya yang sudah dipersiapkan.

"Gandul, "kata Ridwan dengan cepat. Gandul adalah pepaya dalam bahasa Jawa.

"Iya betul Mas Ridwan, ini adalah gandul atau pepaya, " jawabku untuk mengenalkan kosakata pepaya pada anak-anak.

Mereka kubiarkan mengamati buah yang ada di depannya.

"Bunda, yang warnanya oren sudah matang ya, " kata Alin sambil memegang pepaya yang sudah matang.

"Betul Mba Alin, yang ini sudah matang, "jawabku sambil memegang buah pepaya yang sudah matang.

"Anak-anak coba kita lihat ya, Bunda akan mengupas pepaya yang sudah matang ini, "kataku sambil membelah pepaya yang sudah matang tadi.

"Wah, ada bijinya Bunda, "Azam mengambil biji pepaya yang berjatuhan di atas nampan.

"Iya, ini ada bijinya, warna bijinya apa ya anak-anak ? "aku mencoba menggali pengetahuan mereka.

"Hitam, Bundaaaa, " jawab mereka serempak.

Setelah kupotong kecil-kecil anak-anak mulai mencicipi pepaya yang sudah matang tadi.

"Enak, Bunda, " kata Faris sambil menikmati buah pepaya.

"Nah, sekarang Bunda akan membuka pepaya yang satunya."

"Bunda yang ini warnanya hijau dan keras, " kata Wiwit.

"Ini masih mentah ya Bunda, "Azzam memegang buah pepaya yang masih berwarna hijau.

"Iya Mas Azzam ini masih mentah, "jawabku.

"Anak-anak, apakah buah yang masih mentah ini bisa dimakan? "tanyaku kepada mereka untuk memancing pendapat mereka.

Sebagian besar jawaban mereka adalah "tidak".

Akan tetapi jawaban Azzam berbeda. Ia merupakan anak yang paling kritis diantara anak yang lain.

"Bisa Bunda dibuat sayur pepaya. Mamaku suka jualan sayur pepaya kalau pagi-pagi, "jawab Azzam dengan suara yang keras.

"Oh iya, betul anak-anak buah pepaya yang masih muda bisa dibuat sayur, "aku mencoba menguatkan pendapat Azzam.

"Bunda Rini suka beli sayur di tempat mamanya Azzam kan? Bunda Rini mesti malas masak ya, "sambung Azzam sambil tersenyum menggoda.

(Gubraak....olala...sepertinya aku ingin melepas wajah ini dan kusimpan di laci meja yang terdalam.)

Kulihat beberapa wajah seperti senang melihat penderitaanku. Teman-teman sesama pendidik terlihat tersenyum penuh makna. Rasanya ingin lari saja dari tempat itu. Kulihat beberapa wali murid yang masih menunggui putranya juga ikut tersenyum sambil berbisik-bisik.

Kucoba menenangkan diri dan mencoba mencari jawaban yang tepat.

"Betul anak-anak, Bunda Rini sering membeli sayur di tempatnya mamanya Azzam. Bunda Rini juga senang memasak tapi terkadang ingin membeli sayur supaya dagangan mamanya Azzam laris, "jawabku diplomatis.

(Ha..ha....akhirnya aku berhasil menjawab pertanyaan yang membuat syaraf-syaraf rasaku menegang..)

Anak-anak terlihat puas dengan jawabanku. Setelah menggali pengetahuan yang ingin dicapai dalam RPPH, pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan yang berkaitan dengan tema hari itu di masing-masing kelompok.

Anak-anak adalah kertas putih yang bisa diisi dengan tinta sesuai dengan kehendak dari orang tua atau orang dewasa yang ada di sekitarnya. Semoga sebagai pendidik kita bisa memberi warna yang positif pada mereka. Amiin...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ketahuan nih kalau males masak...he he

03 Nov
Balas

Hi..hi...anak-anak terlalu jujur....

03 Nov

Sayur pepaya enak lho Bund...apalagi kalo dioseng...btw kereeen...kontekstual, guru selalu ide untuk membawa anak-anak ke arah tujuan pembelajaran...Mantap Bunda Rini.....masak yuuuuk...Salam sehat dan sukses

03 Nov
Balas

Hayuuuk...tapi hari ini saya mau masak yang langsung jadi Bun... (he..he...beneran ...anak2 sangat jujur sekali...)...

03 Nov

Wow cerita yg menginspirasi banget bunda Rini. Aku juga mau dong sayur pepayanya, hikhikhik... Sukses selalu dan barakallah

03 Nov
Balas

Huaaaaa.... Semuanya jadi ketularan kepingin sayur pepaya muda..... Beliiii bundaaaa.... hi.. hi...

03 Nov

Gandul, buuu....segarnya tiap bagi bertemu imut- imut harum segar minyak kayu putih. Semangat bunda hebat.

03 Nov
Balas

Hi...hi...betul Bunda Filaaa...aroma minyak kayu putih dan bedak bayi yang selalu kurindu....Semangat juga...

03 Nov

Tulisannya membawa pembaca ikut masuk ke dalam cerita....salam Literasi dan sukses

03 Nov
Balas

Alhamdulillah Pak Aris Pujianto....Terima kasih sudah mengapresiasi coretan kecil ini....Salam literasi...

03 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali