Rini Yuliati

Lulusan AKL Depkes Purwokerto yang melakoni profesi momong bocah di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Kebumen Jawa Tengah ...

Selengkapnya
Kisah Perempuan : Episode 7 (Keputusan Tersulit)

Kisah Perempuan : Episode 7 (Keputusan Tersulit)

Astri masih termangu di depan rumahnya. Permintaan Dokter Risa membuatnya merasakan dilema. Dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kedua dalam sebuah pernikahan. Namun melihat kesungguhan yang terlihat di wajah Dokter Risa membuat dirinya harus memikirkan hal itu. Astri tidak mau gegabah mengambil keputusan yang bisa berakibat fatal pada keluarganya. Karena bagaimanapun juga dia harus mempertimbangkan perasaan anak-anaknya. Di akhir pembicaraan dengan Dokter Risa, Astri meminta waktu selama sebulan untuk berpikir.

Malam-malam dilewati Astri dengan memohon petunjuk-Nya, sebuah keputusan sulit harus diambilnya. Keluarga besar Astri menyerahkan keputusan sepenuhnya di tangannya. Suatu malam, Astri mengajak berbicara dari hati ke hati dengan putri sulungnya Kanaya, karena Astri menganggap dia sudah cukup mengerti apa yang akan dibicarakannya.

"Kak, ada yang mau Ummi bicarakan denganmu, "ucap Astri dengan serius.

"Ada apa, Mi ?" jawab Kanaya dengan wajah penuh tanda tanya.

"Begini sayang, abi sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya, "Astri berbicara dengan perlahan sambil sesekali menarik nafas untuk menghilangkan beban yang ada dihatinya.

"Iya Mi, terus kenapa, "tanya Kanaya sambil mata bulatnya menatap Astri.

"Kanaya sayang abi, kan, "Astri kembali bertanya, betapa bibirnya sangat sulit untuk menjelaskan tentang masalah yang sedang dihadapinya.

"Iya Mi, Kanaya sayang dan kangen sama Abi, "Kanaya berkata dengan lirih dan wajah bersedih.

Melihat perubahan wajah Kanaya, Astri kembali merasakan kebingungan bagaimana harus menyampaikan maksudnya kepada putri sulungnya itu. Akan tetapi Kanaya harus mengetahui masalah yang dihadapinya.

"Kanaya tahu Tante Risa ? "tanya Astri.

"Oh, tante dokter yang cantik itu ya Mi ? ". Yang beberapa kali pernah ke sini, kan? "Kanaya mencoba mengingatnya.

"Iya, betul. Tante Risa meminta Ummi untuk menolongnya, "kata Astri mencoba menjelaskan persoalan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

"Emang Tante Risa kenapa Mi? "tanya Kanaya.

"Tante Risa itu sakit parah banget dan dia meminta Ummi untuk merawat suaminya, "Astri perlahan mencoba menjelaskan.

"Dan suaminya Tante Risa itu namanya Dokter Andika, "lanjut Astri.

"Oh iya, om dokter yang baik itu kan? "Kanaya mencoba mengingatnya. Beberapa kali dia pernah bertemu dengan Dokter Andika ketika abinya dirawat di rumah sakit.

"Iya betul sayang, "jawab Astri. Dan untuk bisa merawat suaminya Tante Risa, Ummi harus menikah dengan Dokter Andika, "kata Astri perlahan mencoba menjelaskan.

Kanaya menatap mata Astri seolah menyelidik dan itu membuatnya menjadi merasa seperti terdakwa.

"Bagaimana sayang ? "tanya Astri mencoba mencari jawaban. Kalau Kanaya tidak suka, Ummi tidak akan memenuhi permintaan Tante Risa, "Astri berkata dengan nada tidak yakin.

"Tidak Mi, Ummi harus menolong Tante Risa. Kata Abi, kita harus menolong orang yang dalam kesusahan, "jawaban Kanaya membuat Astri tersentak. Jawaban yang sangat tidak diduganya keluar dari mulut putri sulungnya. Sebuah jawaban yang lahir dari kepolosan anak-anak tanpa mengetahui beban berat yang ditanggung umminya.

Astri memeluk putrinya, merasakan beban itu seakan terangkat satu per satu. Keputusan berat yang harus diambilnya setelah pergulatan yang panjang.

###

Sepulangnya dari rumah Astri, Dokter Risa berpikir bagaimana caranya untuk meyakinkan suaminya supaya mau menikahi Astri. Di suatu malam yang santai, Dokter Risa mencoba berbicara dengan suaminya.

"Mas, ada yang mau aku bicarakan denganmu, "Dokter Risa berbicara dengan perlahan.

"Ada apa, Dik. Sepertinya serius sekali, "Dokter Andika menatap mata istrinya.

"Seandainya aku dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa bagaimana Mas, "tanya Dokter Risa kepada suaminya.

"Ssssst, jangan ngomong seperti itu aah..., "Dokter Andika seperti tidak senang dengan pertanyaan istrinya itu.

"Mas, selama pernikahan kita yang hampir sepuluh tahun aku belum bisa msmberikan keturunan kepadamu, "nada suara Dokter Risa terdengar lirih

"Bukankah kita sudah berusaha untuk mendapatkannya dan jika Allah memang menghendaki kita tidak mempunyai keturunan, mungkin ada rencana indah yang akan diberikan kepada kita, "ucap Dokter Andika mencoba menghilangkan kesedihan istrinya.

"Mas, maukah Mas Andika memenuhi permintaanku yang terakhir, "Dokter Risa berkata sambil berlinang air mata.

"Menikahlah dengan wanita yang bisa merawatmu jika nanti aku sudah tiada, Mas. Dokter Risa mencoba menyampaikan maksud hatinya.

"Aku sudah menemukan wanita baik yang bisa mendampingimu dan kamu sudah lama mengenalnya yaitu Astri, " ucap Dokter Risa dengan wajah sendu.

"Ah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu, Dik, "ucap Dokter Andika dengan tegas.

"Coba dengar penjelasanku, Mas." Dokter Risa kembali berbicara untuk meluluhkan hati suaminya.

"Aku hanya ingin merasakan panggilan "bunda" di sisa terakhir hidupku, Mas. Jika Mas Andika menikah dengan Astri maka anak-anak Mas Andika adalah anakku. Mereka akan memanggilku "bunda" juga."

Dokter Risa mencoba menjelaskan alasannya kepada suaminya. Namun dilihatnya Dokter Andika hanya terdiam.

"Mas, kumohon penuhilah permintaanku ini, "Astri menatap mata suaminya. Mendengar permintaan istrinya, Dokter Andika merengkuh tubuh istrinya yang semakin kurus itu. Permintaan yang cukup berat, dan tidak mudah untuk memenuhinya. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Astri, dr.Risa dan dr.Andika, semoga menemukan solusi yang selalu dalam ridho Allah semata. Lanjuuutttt, bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Sep
Balas

Iya Bun....semoga saja mereka berbahagia dengan keputusan yang diambil oleh masing-masing...Jazakumullah khoiron katsiro sudah berkunjung....Barakallah Bunda Raihana...

27 Sep

Jadi ikut hanyut bu Rini

27 Sep
Balas

Waduh jangan hanyut Bunda ...nanti saya yang bingung...

27 Sep

Berat sekali keputusan yang harus diambil Dr. Andika. Ceritanya mengaduk-aduk perasaan Bu. Penasaran lanjutannya.

27 Sep
Balas

Termasuk saya juga penasaran Pak Ayo..bagaimana kisah ini selanjutnya......

27 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali