Rini Yuliati

Seorang ibu dari dua orang putri yang ingin belajar merangkai huruf sehingga menjadi bermakna. Tinggal di sebuah kota kecil di Kebumen, Jawa Tengah. Profesi mom...

Selengkapnya
Makna Tersembunyi di Balik Semangkuk Kolak
http://resepcaramemasak.info

Makna Tersembunyi di Balik Semangkuk Kolak

Bulan Ramadan selalu menyisakan kerinduan di dalamnya. Rindu suasananya. Rindu ibadahnya. Rindu semuanya. Merindu juga makanan khasnya yang manis yaitu kolak. Tanpa kolak ibarat sayur tanpa garam. Terasa ada yang kurang. Menikmati kolak ketika berbuka seperti menemukan telaga di tengah padang pasir yang tandus. Segar terasa dan menjadi energi kembali setelah seharian berjuang untuk menghindarinya.

Ternyata makanan manis itu memiliki makna yang dalam. Tak banyak yang tahu tentang awal mula dan sejarah makanan bernama kolak itu. Kolak awal mulanya sering dijadikan media oleh para ulama untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Bagaimana ceritanya ? Pada masa itu untuk memperkenalkan ajaran agama Islam diperlukan cara yang simpel dan mudah dipahami oleh masyarakat. Nah, melalui makanan kolak itulah, para ulama memperkenalkan nilai-nilai kebaikan.

Kata kolak sendiri berasal dari kata "Khalik" yang artinya Sang Pencipta. Pencipta alam beserta isinya. Dan kata kolak sendiri banyak diartikan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ternyata bahan pengisi kolak yang terdiri dari beberapa makanan juga memiliki makna tersendiri. Pisang kepok, bahan yang tidak pernah ketinggalan ini sering diplesetkan artinya yaitu "kapok" atau jera. Perilaku menyesali perbuatan perbuatan dosa dan kekhilafan di masa lampau atau bertobat.

Bahan lainnya yaitu ubi jalar atau ketela yang dalam bahasa Jawa kerap disebut dengan ‘telo pendem’ memiliki makna memendam atau mengubur kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu dan tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

Memahami makna dibalik makanan "kolak" ternyata sangat indah ya. Di bulan ramadan ini sudah seharusnya semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Tentunya diharapkan berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan dan mengubur dalam-dalam kesalahan itu. Menjadi pribadi yang lebih baik di bulan ramadan ini. Menjadi titik awal untuk bulan-bulan berikutnya sampai akhir kehidupan di dunia ini. Wallahu a'lam bi showab.

Kebumen, 7 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Dengan memakan kolak berarti kita selalu meningat sang khalik

07 May
Balas

Betul Bunda Astuti...Mengingat sudah diberi nikmat lidah untuk menikmati semangkuk kolak yang segar...Terima kasih sudah hadir di sini...Barakallah ..

07 May

Baru tahu Budhe ternyata ada sesuatu di balik kolak

07 May
Balas

Iya Lik....Semoga bisa menjadi ibrah bagi kita semua...

07 May

Subhanallah, dapat ilmu baru dari Budhe. Begitu dahsyat filosofis dari sebuah kolak. Sukses selalu dan barakallahu fiik

07 May
Balas

Iya Bun...Selain rasanya manis ternyata kolak memiliki makna yang dalam...Terima kasih selalu mampir di sini.. Barakallah Bunda Pipi...

07 May

Kolak juga punya sejarah. Terimakasih share ilmunya bu Rini. Kolaknya menggoda hehehe. Barakallah, sukses selalu.

07 May
Balas

He..he..Iya Bunda Rita ...Sejarah yang kalau dikupas ternyata menyimpan makna yang luar biasa...Mari membuat kolak...Barakallah Bunda Rita...

07 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali