Rini Yuliati

Lulusan AKL Depkes Purwokerto yang melakoni profesi momong bocah di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Kebumen Jawa Tengah ...

Selengkapnya
Sejujurnya Aku Tidak Rela Berbagi Suami Dengannya

Sejujurnya Aku Tidak Rela Berbagi Suami Dengannya

Membaca artikel Pak Mulya dengan judul "Mungkinkah Suami Berbagi Cinta (Kajian Sudut Pandang Demografi) membuatku teringat kejadian tadi siang. Namanya Mba Lies, seorang ibu yang berjuang keras mencari nafkah dengan berjualan dari rumah ke rumah untuk menghidupi keluarganya. Suaminya, namanya Pak Toro menikah lagi dengan seorang janda muda. Dia adalah seorang preman yang cukup disegani di desa tempat tinggalnya.

Aku baru pulang dari tempat momong anak-anak di lembaga PAUD tempatku mengabdi. Ketika dari luar terdengar suara cempreng seorang wanita.

"Buu, pelaaas!!!, "terdengar teriakan yang cukup keras dari luar rumah. Aku langsung mengenali suara itu, Mba Lies. Beberapa hari sekali dia menawarkan makanan dagangannya yaitu "pelas". Pelas terbuat dari ampas kelapa yang belum begitu tua dan diberi bumbu lengkap dengan campuran kemlanding, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus. Rasanya mak nyuus untuk lauk makan siang.

Kubuka pintu rumah dan kulihat wajah Mba Lies yang sumringah.

"Mba Lies, beli pelasnya 10 ribu. Kebetulan hari ini aku cuma nyayur bening, "kataku sambil tersenyum.

"Tumben, jualannya siang, "tanyaku lebih lanjut.

"Iya bu, aku tadi jualan ke rumah sakit dulu, "jawab Mba Lies. 

"Trus muter ke RW 5, eh malah ketemu suamiku lagi boncengan sama istri mudanya."

Mba Lies bercerita dengan raut muka yang sedikit berubah.

"Giliran aku jualan ke puskesmas, lagi-lagi di jalan berpapasan dengan suamiku dan istri mudanya, "kata Mba Lies seolah ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya.

"Bukankah Mba Lies sudah ikhlas Pak Toro menikah lagi? "kataku dengan penuh tanda tanya.

"Kata siapa Bu, kalau aku sudah ikhlas. Seikhlas-ikhlasnya perempuan pasti tidak rela kalau harus berbagi suami dengan perempuan lain."

"Coba ibu bayangkan, suami yang sudah puluhan tahun menemani hari-hari ternyata mencintai perempuan lain. Rasanya hati ini sakit sekali, Bu, "kata Mba Lies dengan wajah sedih.

"Iya sih, walaupun seorang perempuan ikhlas menerima suaminya menikah lagi namun tetap ada rasa sakit hati walaupun hanya sebesar jagung, "kataku mengiyakan pendapat Mba Lies. Aku mencoba berdiri pada posisi Mba Lies.

"Ah, sudahlah Bu. Mungkin ini sudah nasibku harus menjalani nasib seperti ini, "kata Mba Lies sambil menghidupkan motornya.

"Terima kasih, Bu." Mba Lies tersenyum perih.

"Sama-sama Mba Lies, " jawabku dan kulihat punggungnya mulai menjauhi halaman rumahku.

Allah membuat syariat poligami dengan syarat yang cukup berat yaitu harus berlaku adil. Padahal adil tidaklah semudah yang diucapkan. Wallahu a'lam bishowab.

#catatan di akhir malam#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Itu satu sudut pandang tentang sosok perempuan yang tidak rela berbagi suami dengan perempuan lain, karena sosok pak toro mantan preman, lain cerita jika sosok suaminya seorang ulama/orang berkecukupan materi

11 Oct
Balas

Betul Pak Mulya...masih banyak sudut-sudut lain yang tentunya akan berbeda cara pandangnya...dan betul juga bahwa itu semua adalah pilihan hidup yang harus dijalani...Terima kasih atas inspirasnya yang membuat saya bisa menulis malam ini..Barakallah...

11 Oct

Pertama, saya komen pelasnya dulu...ya bunda. Saya suka banget sama makanan itu. Dan..., mungkin pelas buatan saya ndaka kalah cetar dengan buatan "orang jawa" hehehe. Poligami, pastinya berat la, bunda. Justru sebenarnya lebih berat pada laki-laki jika mengamalkan surat An Nisa ayat 3 dengan sesungguhnya. Yang paling penting, kita selalu berusaha untuk menerima kebenaran ayat Allah. Selanjutnya, biarkan para "pelaku" menjalankan kebenaran ayat-ayat itu. Salam sehat dan sukses selalu. barakallah, bunda.

11 Oct
Balas

Wow...ternyata Bunda Rai juga suka pelas ya....Betul sekali Bunda...Banyak "pelaku" yang mengambil pilihan untuk menjalankan syariat itu...dengan beragam alasan yang menurut mereka adalah benar. Akan tetapi kebenaran hakiki adalah milik Allah semata. Wallahu a'lam. Salam sehat dan sukses juga untuk Bunda Rai..Barakallah...

11 Oct

Hebat, langsung jadi cerita sebagai jawanan dari paparan pak guru Mulya bu. Sy sih gak bisa koment, krn sdh sy jawab dlm buku. Barakallah

10 Oct
Balas

Hi..hi...makasih sudah berkunjung....Bunda Ropi pakarnya nih......Barakallah..

10 Oct

Prihatin baca kisah mba Lies... Sehat selalu ya bun.. Barakallah..

10 Oct
Balas

Eh...ada Bunda Zulhiani....ngalong juga nih...Jazakumullah khoiron katsiro atas kunjungannya...Barakallah...

10 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali