Rini Yuliati

Seorang ibu dari dua orang putri yang ingin belajar merangkai huruf sehingga menjadi bermakna. Tinggal di sebuah kota kecil di Kebumen, Jawa Tengah. Profesi mom...

Selengkapnya
Takdir Sebuah Tulisan, Dulu dan Sekarang
m.tokopedia.com

Takdir Sebuah Tulisan, Dulu dan Sekarang

Dulu sekali FB, WA, IG dan sejenisnya belum ada. Teknologi komunikasi belum secanggih sekarang. Untuk komunikasi jarak jauh masih sebatas penggunaan telepon kabel. Itupun tidak setiap rumah memiliki fasilitas tersebut. Sekarang dunia terasa menyempit. Kita bisa berkomunikasi dengan siapapun tanpa batas. Media sosial dengan berbagai aplikasi merambah semua kalangan. Dari kalangan rakyat ekonomi atas sampai bawah memiliki fasilitas tersebut. Dari remaja sampai dewasa tak ketinggalan menikmati bermacam aplikasi media sosial.

Masih ingat dalam memori ini, sebuah buku warna-warni nan cantik bernama diary. Buku tempat curahan rasa. Tak boleh ada yang tahu isinya. Bahkan ada gembok dan kunci yang terpasang di bagian sampingnya. Berisi curhat ketika sedih, gembira, berbunga-bunga, putus cinta dan rasa yang lain. Rasa nano-nano ada dalam buku itu. Apakah tulisan itu dibaca oleh orang lain ? Tidak. Semua itu tidak menjadi masalah. Karena kita menulis di buku itu untuk mengurai rasa. Suatu saat akan menjadi catatan yang akan dibaca kembali.

Sekarang, semua orang berlomba curhat di media sosial. Curhat yang bernama status. Namun ada yang berbeda. Semua orang mengetahui bagaimana dan apa yang kita rasakan. Bahkan dengan status itu seolah berharap simpati dari orang lain. Namun ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam bermedia sosial. Hendaknya kita tetap menjaga etika dalam menulis status. Karena bahasa tulis terkadang memicu bermacam persepsi dari pembaca. Ada yang negatif dan ada yang positif. Kedewasaan sangat diperlukan dalam menghadapinya. Tanpa itu semua, akan membuahkan konflik seperti kasus yang baru-baru ini viral. Kasus Audrey tidak lepas dari ucapan di media sosial yang diumbar begitu saja.

Oleh karena itu, takdir sebuah tulisan bisa saja berbuah kebaikan atau bahkan keburukan. Mari kita belajar menulis tentang kebaikan saja. Karena tulisan itu seperti ucapan. Menjaga sebuah tulisan seperti menjaga lidah kita. Tetap menulis dan menjaga silaturahmi.*)

Kebumen, 22 April 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sama seperti lidah, ada harimau pula di dalam tulisan kita. Jazakillah khoir sudah diingatkan. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Rini.

24 Apr
Balas

Berusaha menjaga lidah dan pena supaya tidak menyakiti siapa pun..Jazakillah khoir Uthi Rai sudah melengkapi coretan ini.. Barakallah Uthi Rai...

25 Apr

Setuju Budhe, tulisan laksana lisan. Lisan harus dijaga, demikian tulisan. Sukses selalu dan barakallahu fiik

22 Apr
Balas

He..he...Saudariku..Kapan main ke sini lagi...Sehat selalu yaa...Barakallah...

22 Apr

Mantaps Bunds, Etika berkomunikasi digital harus dijaga karena ada aspek positiv ada juga negative. Salam sehat barakah.

23 Apr
Balas

Terima kasih atas kehadirannya di sini Pak Mardi...Salam sehat dan sukses selalu..Barakallah..

23 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali