Rini Yuliati

Lulusan AKL Depkes Purwokerto yang melakoni profesi momong bocah di sebuah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Kebumen Jawa Tengah ...

Selengkapnya
Titip Rindu Buat Ayah
Dokumen pribadi

Titip Rindu Buat Ayah

Malam ini secara tidak sengaja menemukan foto lama. Foto yang membuatku seperti terlempar pada masa sekitar tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Kami tiga bersaudara perempuan semua. Dua sosok dewasa di dalam foto ini adalah ayah dan ibu kami. Melihat senyum mereka di foto ini membuatku rindu. Kini kedua sosok itu sudah semakin ringkih dan merapuh. Bahkan sosok lelaki yang dulu paling ganteng di antara kami sekarang sudah mulai terserang "lupa" (..tidak tega rasanya untuk mengatakan pikun..). Ayahku adalah sosok yang sangat penyayang, beliau selalu menjadi pahlawan bagi kami karena kami perempuan semua. Beliau selalu sigap ketika harus memberikan uluran tangan yang tidak mampu kami lakukan. Dulu sekali ayah yang selalu menjadi "ojek" cinta bagiku karena sekolahku yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Beliau tidak pernah mengeluh walaupun setiap hari harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk menjemput putrinya.

Sekitar seminggu yang lalu aku diberi kesempatan menjenguk beliau. Kebetulan aku ada acara di Purwokerto bersama teman-teman rombongan Pokjar UT. Ketika ada kesempatan, aku mampir ke rumah untuk melihat keadaan beliau. Begitu sampai di sana kulihat ibu sedang duduk di ruang tengah dan kaget melihat kedatanganku. Karena memang aku tidak memberi kabar kalau akan ke sana. Kucium tangan beliau dengan takdzim. Setelah berbincang-bincang sedikit dengan ibu, kucari sosok ayah. Tak kulihat beliau duduk di kursi seperti biasanya. Setelah beberapa saat kulihat sosok sepuh berjalan terhuyung-huyung datang mendekat. Ya, ayah memang sekarang jalannya tidak segagah dulu, keseimbangannya semakin berkurang. Aku berjalan mendekati beliau, matanya memandangku dengan tatapan rindu. Kucium tangannya yang keriput.

"Kowe karo sapa (kamu dengan siapa)? "tanya beliau.

"Kalih rencang Pak (Dengan teman Pak), "jawabku.

Beliau hanya menganggukkan kepala. Sekarang beliau menjadi pendiam tidak seperti dulu. Selalu bertanya apa saja kepada putrinya. Akupun hanya sekedar berbincang sedikit dengan beliau. Karena pendengaran yang banyak berkurang membuat pembicaraan kami sedikit terhambat. Selebihnya aku lebih banyak berbincang dengan ibu yang menanyakan kabar cucunya. Kulihat ayah duduk di kursinya sambil menikmati camilan dengan gigi palsunya yang sudah tidak terpasang dengan sempurna di gerahamnya. Pandangannya melihat ke arahku namun sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang tatapan mata beliau terlihat kosong. Aku merindukan percakapan yang hangat dengan beliau. Semoga Allah memberi kesehatan dan umur yang panjang kepada beliau.

Sekitar 3 jam aku berada di sana dan sudah cukup mengobati kerinduanku. Setelah menikmati makan siang dengan menu balado terong dan mie goreng buatan ibu yang selalu kurindukan. Aku pun berpamitan untuk pulang karena sudah ditunggu rombongan. Aku berpamitan dengan ibu. Dan kucium tangan beliau yang berbau aroma bawang yang selalu kurindu. Kemudian berganti kucium tangan ayah yang gemetar. Ayah menatapku dengan tatapan penuh tanya.

"Pak, kulo badhe wangsul (Pak, saya mau pulang), "ucapku setelah mencium tangan beliau.

"Aku melu (Saya ikut), "kata ayah dengan pandangan memohon. Tangannya memegang tanganku seolah tidak mau dilepaskan.

Ya Allah, aku tak kuasa menolak permintaan beliau, namun kondisi yang tidak memungkinkan membuatku merasa sedih.

"Kula kalih rombongan Pak. Ngenjang numpak mobil kalih Tuti mawon, nggih? (Saya dengan rombongan Pak. Besok naik mobil saja dengan Tuti, ya?), "jawabku sambil memegang tangannya yang enggan melepas tanganku. Kulihat raut kecewa di wajah beliau. Akhirnya aku meninggalkan ayah yang masih menyisakan wajah merindu.

Sepanjang perjalanan pulang, di mataku masih terbayang wajah ayah yang ingin ikut denganku. Maafkan anakmu ini, Ayah. Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil. Hanya doa itu yang bisa kulantunkan dalam setiap doaku. Kutulis ini dengan linangan air mata. Semoga mereka diberi umur panjang dan keberkahan dalam sisa hidupnya.

#edisirindu# Kebumen, 101118

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sosok Ayah yang mulai kembali seperti anak kecil, memang membuat kita haru da semakin menggenang keberadaannya. Dan itu bagian dari ladang ibadah kita

10 Nov
Balas

Njih Bunda Astuti....semoga masih diberi kesempatan untuk membahagiakan kedua orang tua saya Bunda Astuti....terima kasih sudah mampir..

10 Nov

Aku juga rindu hik hik

10 Nov
Balas

Tiliki jajal pada sehat mbok...

10 Nov

Alhamdullilah sehat

10 Nov

Amin. Smg Allah melindungi beliau

10 Nov
Balas

Amiin Ya Allah...Terima kasih atas doanya ibu Nelwati....

10 Nov

Air mata pun tak mampu kutahan, menyerbu keluar dari kelopak mata ini. Betul kata pak Taufik, usahakan sesering mungkin mungkin bisa bersama ayah. Hal itu pasti akan membuat beliau bahagia di hari tuanya. Bunda, titip rindu buat ayah. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

10 Nov
Balas

Betul.Bunda..semoga masih diberi keaempatan untuk berbincang kembali dengan beliau...Salam sehat dan.sukses Bunda Rai..Barakallah..

10 Nov

Ya Allah, akupun ikut srdih nih, hampir berlinang air mata, bila tak ingat di kereta. Smoga ayah ibu sehat yah saudariku. Hanngat masih ada org tua. Sukses selalu dan barakallah

10 Nov
Balas

Iya Bun...rindu yang terbentang jarak. Amiin terima kasih atas doanya...Semoga Bunda Pipi selamat sampai tujuan dan dapat berkumpul dengan keluarga kembali..Barakallah..

10 Nov

Masyaallaah, semoga ayahanda selalu diberi kesehatan dan umur panjang, kalo bapak saya sudah tiada 5 tahun yang lalu bunda. Saya jadi ingat dan merindukan beliau. Semoga selalu sehat dan makin sukses. Barakallaah

10 Nov
Balas

Alhamdulillah Bunda Nurmalia...semoga Allah.memberikan umur panjang kepada beliau...sehingga bisa menyaksikan cucu dan cicit..Barakallah..

10 Nov

Semoga Ayah diberi kesehatan, keselamatan,usia yg manfaat bisa momong anak putu, buyut, Bu...

10 Nov
Balas

Aamiin Bu Fila..maturnuwun doanya....

10 Nov

Aamin... Sering seringlah bersama ayah, sesempat mgkin..insyaa Allah akan memguatkan jiwanya...atau bicara sesering mgkin sesuai ia mau... Moga berkah unt keduanya...

10 Nov
Balas

Aamiin Pak..Iya Pak..semoga kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa dan berbincang lagi...Barakallah..

10 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali