Rini Yuliati

Seorang ibu dari dua orang putri yang ingin belajar merangkai huruf sehingga menjadi bermakna. Tinggal di sebuah kota kecil di Kebumen, Jawa Tengah. Profesi mom...

Selengkapnya
Celengan Empati

Celengan Empati

Saya bukan ibu yang 'wow'. Bukan pula ahli parenting yang hebring. Saya hanya ibu yang punya cinta. Cie cie. Cuma punya pelukan hangat untuk mereka. Dua anak manis yang dititipkan Sang Pemberi Kehidupan.

Hari ini, saya baper tingkat tinggi. Si sulung pulang sekolah di saat cuaca sedang panas-panasnya. Tak ada raut muka lemas di wajahnya. Seperti biasa dia ceria.

"Lun, ini celengan buat kamu," kata si sulung pada adiknya. Di tangannya ada sebuah celengan plastik berwarna biru.

Saya hanya melirik saja dengan mata setengah terpejam. Suasana puasa membuat diri ini ingin bermalas-malasan di tempat tidur.

"Bu, tadi sepulang sekolah ada kakek jualan celengan di pinggir jalan. Harganya murah cuma lima ribu. Boleh ditawar sepuluh ribu dapet 3 tapi aku tidak tega." Dia nyerocos cerita sambil mengganti pakaian sekolahnya.

"Kasihan, sudah tua sekali. Aku teringat mbah kakung."

"Sebenarnya aku tidak berniat membeli celengan itu. Eh, ketika sudah melewatinya aku kasihan padanya. Aku ajak dua temanku kembali ke tempat si kakek. Kita bertiga akhirnya membeli celengan itu."

Dia bercerita dengan antusias. Jujur saja, saya selalu suka menikmati ceritanya. Cerita tentang kegiatan di sekolah atau cerita tentang teman-temannya. Si sulung termasuk anak yang terbuka. Apapun dia ceritakan pada ibunya. Saya sangat menghargai itu.

Yang membuat saya baper adalah rasa empati yang ditunjukkannya pada si kakek. Bahkan dia mengajak dua temannya untuk ikut membantu si kakek. Di tengah zaman yang semakin individual ini, dia masih mempunyai rasa peduli. Ah, saya ingin menangis. Emak-emak memang mudah terharu.

Empati adalah kemampuan untuk dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami emosi dari perasaan orang tersebut.

Empati merupakan salah satu sifat baik yang bisa menjamin bahwa anak akan menjadi pribadi yang disukai orang disekelilingnya. Jika buah hati kita tumbuh tanpa rasa empati, ia akan sulit mendapatkan teman karena ia dijauhi atau tidak disukai teman-temannya. Apabila hal tersebut terus-terusan terjadi, tentu akan berpengaruh pada keadaan jiwanya saat dewasa.

Empati bukanlah suatu hal yang bisa muncul dengan sendirinya sejak kita lahir. Sebaliknya, rasa ini akan muncul jika dipupuk sejak dini oleh orangtua atau lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, dibutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan rasa empati di dalam diri seseorang.

Cara menumbuhkan rasa empati pada anak sejak dini :

  1. Pastikan kebutuhan emosional anak terpenuhi.
  2. Ajari anak cara mengatasi emosi negatif
  3. Tanyakan, “Bagaimana perasaanmu?”
  4. Berikan contoh yang baik

Tulisan ini hanya sekadar sharing supaya kita sebagai orang tua bisa memberikan dasar karakter yang baik kepada anak-anak. Zaman boleh berubah namun karakter baik tetap harus ada. Bismillah.

Kebumen, 29 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Example is good. Yes bun

30 May
Balas

Yes..yes..yes..86 ..Pak Tanto...

30 May

Sikap baik yang dimiliki seorang anak, tentu tak lepas dari didikan orang tuanya. Pupuk terus dan kembangkan.

30 May
Balas

Njih Pak Edi....Semoga bisa tetap mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya...Terimakasih atas suportnya ...Barakallah Pak....

30 May

Anak yang hebat terlahir dari keluarga yang luar biasa.. Mantaap betul Kak... Salam sehat dan sukses .. Barakallah..

30 May
Balas

Segala puji hanya bagi Allah yang sudah memberikan fitrah kebaikan di hati setiap anak.. Orangtua tinggal memupuk dan memperhalus supaya fitrah itu tetap terjaga... Terimakasih Dik Upik.. Semoga kita bisa menjaga amanah itu dengan baik... Salam sehat dan sukses Dik Upik... Barakallah..

30 May

Zaman boleh berubah namun karakter baik tetap harus ada. Saya suka sekali kalimat ini. Karakter baik didapatkan anak dari apa yang dilihatnya. Orang tua mencontohkan hal yang baik, anak pun menirunya. Masyaallah, luar biasa empati si sulung. Semoga kelak menjadi generasi qurrota a'yun. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Baeakallah..., Bunda Rini.

30 May
Balas

Amin ya rabbal'alamiin...Terima kasih atas doanya Uthi Rai.. Orang tua hanya menginginkan putra-putrinya tumbuh dengan karakter yang baik...Semoga sebagai pendidik kita bisa mengawali dari diri dan keluarga..Salam sehat dan sukses selalu Uthi Rai..Barakallah...

30 May

like mother like son.... buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Bahagianya lihat si sulung .. Barakallah Mba

30 May
Balas

Alhamdulillah Bu Penilik... Semoga kita bisa menjaga amanah yang diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya... Barakallah Bunda Desi...

30 May

Alhamdulillah, si sulung sudah miliki kesalihan sosial yang bagus. Tak mudah munculkan hal iru Budhe. Sukses selalu dan barakallahu fiik

30 May
Balas

Iya Bun...Alhamdulillah, semoga karakter itu akan tetap melekat sampai kapanpun...Terima kasih sudah mampir di sini...Barakallah bunda Pipi ..

30 May
search